Tugas Kuliah Filsafat Ilmu, Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada hari jum'at malam tanggal 13 September 2019, kami satu kelas yaitu kelas D PPs Pendidikan Matematika berencana pergi menonton pertunjukkan wayang kulit di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Namun, hanya beberapa orang saja yang datang menonton pertujukkan, mungkin dikarenakan teman-teman yang lainnya masih ada kesibukkan lain sehingga berhalangan hadir dan akan menonton pertunjukkan di hari berikutnya. Kebetulan pertunjukkan wayang kulit diadakan setiap hari di Museum Sonobudoyo kecuali pada hari minggu di tutup.
Pada hari jum'at malam tanggal 13 September 2019, kami satu kelas yaitu kelas D PPs Pendidikan Matematika berencana pergi menonton pertunjukkan wayang kulit di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Namun, hanya beberapa orang saja yang datang menonton pertujukkan, mungkin dikarenakan teman-teman yang lainnya masih ada kesibukkan lain sehingga berhalangan hadir dan akan menonton pertunjukkan di hari berikutnya. Kebetulan pertunjukkan wayang kulit diadakan setiap hari di Museum Sonobudoyo kecuali pada hari minggu di tutup.
Setelah kami sampai di tempat pertunjukkan wayang kulit, sebelumnya kita diwajibkan membayar sebesar Rp 20.000 rupiah dan mengisi buku tamu. Kemudian setelah itu, kita diberikan tiket masuk dan pamflet yang mana pamflet tersebut merupakan sinopsis dari cerita wayang kulit yang akan di ceritakan malam itu, yaitu Anggada Duta (Perutusan Anggada). Bukan cuma sinopsis, di dalam pamflet tersebut memperlihatkan tokoh-tokoh wayang kulit apa saja yang bermain pada cerita itu, yaitu tokoh utama: Rama, Sinta dan Rahwana sedangkan tokoh pendukung: Anggada, Bathara Guru, Prahasta, dan Indrajit. Tidak lupa pula, sejarah singkat dari Museum Sonobudoyo.
Ketika masuk ke dalam tempat pertunjukkan, terlihat berbagai macam alat musik gamelan yang tersusun rapi diatur di dekat tempat pertunjukkan wayang kulitnya. Sedangkan di bagian tengah belakang adalah tempat pertunjukkan wayang kulitnya. Tempat pertunjukkan wayang kulitnya yaitu berupa kain putih yang ditempelkan pada bingkai persegi panjang sehingga seperti layar kemudian di soroti lampu, ini dilakukan agar bayangan dari wayang kulit nantinya dapat terlihat jelas ketika orang-orang menontonnya. Yang paling unik menurutku adalah tempat untuk meletakkan wayang-wayang kulit yang akan di tampilkan di layar. Agar wayang kulitnya bisa berdiri kokoh, pewayang menancapkan wayang kulitnya pada batang pohon pisang dibagian bawah layar, sehingga wayangnya tidak bergerak-gerak, kecuali tangannya yang digerakkan oleh pewayang.
Oh ya, jika kita ingin menonton wayang kulit disarankan pada bagian belakang layar sehingga bayangan wayang kulit terlihat jelas. Kita juga dapat menonton wayang kulit di bagian depan maupun samping, hanya saja kita menontonnya tidak terlalu fokus, karena adanya alat-alat musik gamelan, para pemain musik dan para sinden yang ada disitu, yang akhirnya kita sibuk memperhatikan para pemain musik dan sindennya yang asik memainkan alat musik dan melantunkan lagu.
Kebanyakan yang menonton pertunjukkan wayang kulit tersebut adalah orang-orang dari luar negeri (bule). Ada rasa bangga ketika melihat para bule antusias untuk menonton pertunjukkan wayang kulit tersebut. Namun ada pula rasa kecewa, ketika orang luar negeri saja yang jauh-jauh dari negaranya datang ke sini untuk menonton pertunjukkan wayang kulit, sedangkan kita yang sudah tinggal di Indonesia ini masih bermalas-malasan atau bahkan tidak mau menonton pertunjukkan ini. Miris.
Iringan musik dan lantunan lagu dari para pesinden menandai bahwa pertunjukkan akan di mulai. Mulailah pewayang mempersiapkan wayang kulit mana yang akan di tampilkan di layar. ketika pertunjukkan di mulai, tenyata bahasa yang digunakan yaitu bahasa jawa. Untungnya sebelum pertunjukkan di mulai, saya sudah membaca sinopsis dari pamflet tadi dan telah melihat tokoh-tokoh wayang kulit yang akan digunakan, sehingga ketika pertunjukkan saya bisa mengerti jalan ceritanya. Yahh.. walapun tidak secara keseluruhan sih. Selain itu juga, beruntungnya ada beberapa teman yang sudah memahami cerita ini, sehingga saya juga meminta penjelasan dari mereka.
Ketika wayang kulitnya ditampilkan di layar, kami menebak-nebak tokoh-tokoh apa saja yang ditampilkan tersebut. Pertunjukkannya berjalan dengan lancar. Pertunjukkannya mulai pukul 20.00-22.00 WIB. kami menikmati pertunjukkan tersebut, walaupun kadang saya bingung dengan apa yang diceritakan oleh pewayang (karena menggunakan bahasa jawa). Setelah selesai pertunjukkan, kami di sapa oleh pewayang, para pemain musik dan para sinden. Setelah itu, kami menyempatkan berfoto didepan tempat pertunjukkan wayang kulit.
Foto setelah menonton pertunjukkan wayang kulit
Berikut sinopsis dari cerita Anggada Duta (Perutusan Anggada)
Pembicaraan pada babak pertama terjadi antara Sri Rama dengan Anggada beserta beberapa tokoh yang lainnya. Karena Anoman yang diutus oleh Sri Rama ke Alengkara melaporkan keadaan Dewi Sinta sehat-sehat dan juga Dewi Sinta masih tetap cinta setia dengan Sri Rama. Laporan Anoman itu dirasakan Sri Rama masih kurang meyakinkan dirinya, sehingga Sri Rama mengutus Anggada ke Alengka mengadakan misi perdamaian sebagai duta dari Sri Rama. Diberikan mandat oleh Sri Rama, Anggada dengan suka cita menerimanya, untuk membalas budi Sri Rama karena ia telah diperlakukan seperti anak sendiri. Dan kemudian mohon pamit, untuk menempuh perjalanan ke Alengkapura.
Di Alengkapura dikisahkan para raksasa sedang melakukan penjagaan ketat, dikarenakan trauma dengan kejadian sebelumnya, yaitu kota Alengka pernah dibakar oleh Anoman. Ketika sedang bertugas berjaga-jaga para raksasa dikejutkan oleh kedatangan seekor kera merah yang bernama Anggada. Peperangan tidak bisa dihindari, para raksasa dengan ganas menyerang Anggada, begitu juga sebaliknya. Namun pertempura akhirnya diberhentikan dengan kedatangan Rahwana. Rahwana mendekati Anggada dan menanyakan maksud dari kedatangannya ke Alengka. Anggada diajak ke balai paseban agung. Anggada memperkenalkan diri dan menceritakan dirinya adalah anak dari Subali. Seketika itu juga Rahwana menangis dihadapan Anggada. Rahwana berakting sedih guna mengelabui Anggada, dan kemudian bisa diperalat. Anggada disanjung, diperlakukan dan dijamu dengan baik, diberi makanan yang enak-enakserta minuman keras dan didampingi perempuan-perempuan cantik, untuk membuat Anggada menjadi linglung dan hilangnya keseimbangan pikirannya. Disaat Anggada mabuk, hilanglah kesadarannya, Rahwana memfitnah dengan membuka tabir kematian ayahnya yaitu Subali yang dibunuh oleh Sri Rama dan Sugriwa. Namun hasutanhasutan itu membuat semangat Anggada membara dendamnya untuk kembali bermusuhan dengan Sri Rama. Karena dibakar amarah Anggada berubah menjadi raksasa besar yang bernama Kalantaka. Bersama anak Rahwana yang bernama Megawangsa dan beberapa pasukan raksasa pergi ke Pancawati (tempat perkemahan Rama) menyerbu pasukan wanara yang di pimpin oleh Rama Dewa.
Anoman dan pasukan kera yang sedang menunggu kedatangan Anggada menjadi kalang kabut. Anggada dan Kulantaka serta beberapa pasukan raksasa kemudian menyerbu Pancawati. Pertempuran amat dahsyat, tidak bisa dihindari. Anoman menjadi heran melihat raksasa besar itu tidak bisa dikalahkan. Kemudian Anoman meneliti merenung dengan memakai Kuku Pancanaka miliknya. Dan akhirnya tahulah Anoman bahwa Kalantaka itu adalah Anggada. Anoman menyadarkan Anggada dari kekeliruannya, yang telah diperbudak oleh Rahwana. Ketika itu juga Anggada kembali bergabung dengan pasukan wanara untuk menyerang pasukan raksasa, dan membunuh anak Rahwana yaitu Megawangsa.
Nilai yang Terkandung
Cerita Anggada Duta ini mendidik kita untuk selalu berhati-hati dan waspada ketika melakukan sesuatu sehingga dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Kesimpulan
Cerita ini menguraikan perjalanan Anggada sebagai duta (diutus), dikarenakan Anggada diperdaya oleh Rahwana, Anggada bermusuhan dengan Rama dan berperang melawan pasukan kera, yang pada akhirnya kembali bertempur melawan pasukan Rahwana dan dapat dikalahkan.


No comments:
Post a Comment