Berikut beberapa tugas akhir semester saya yang telah diselesaikan, yaitu:
1. Identifikasi dan Penjelasan Filsafat Mengenai Persoalan Matematika di Sekolah.
2. Makalah Penjelasan Filosofis terhadap Beberapa Objek dan Fenomena Matematika yang Ada di Sekolah.
3. Calon Judul Tesis Mengenai Persoalan/Masalah Penelitian Pendidikan Matematika.
Nama Mahasiswa : TIARA WAHYU ANGGRAINI (NIM 19709251065)
Nama File Folder : TIARA WAHYU ANGGRAINI_FILSAFAT_P.MATH_2019_MARSIGIT
Selanjutnya, tugas saya dapat di download pada laman berikut ini:
Tiara Wahyu Anggraini
Seorang Mahasiswi biasa yang lagi berjuang menggapai cita-cita~~
Tuesday, December 24, 2019
Monday, December 16, 2019
Wednesday, December 11, 2019
Marsigit Philosophy 2019 Tiara Wahyu Anggraini | Identifikasi dan Penjelasan Filsafat Mengenai Persoalan Matematika di Sekolah
Tugas
Ujian Akhir Semester (UAS)
Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen
Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
1. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai konsep bilangan yang pangkatnya negatif?
Jawab: Secara filsafat konsep
bilangan Berpangkat Negatif termasuk ke dalam Pengertian Formal; dia hanya ada
di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah
sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk mempelajarinya.
2. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai konsep penjumlahan?
Jawab: Secara ontologis, konsep
jumlah/tambah hanya merujuk pada dua hal saja, yaitu ruang dan waktu. Ruang dan
waktu adalah genus dari semua yang ada dan yang mungkin ada, maka konsep
jumlah/tambah bersifat ontologis pula karena dapat melekat pada genus ruang dan
waktu.
3. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai pembuktian rumus matematika?
Jawab: Membuktikan Rumus Matematika
adalah ranah orang dewasa (SMA ke atas) dalam lingkup Matematika
Formal/Matematika Aksiomatik. Membuktikan Matematika untuk dunia anak-anak (SD)
harus diberi pengertian lain yaitu segala aktivitas memahami matematika dengan
aktivitasnya berinteraksi dengan benda-benda konkrit.
4. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai aksioma dan teorema dalam matematika?
Jawab: Aksioma dan teorema termasuk
ranah Matematika Formal/Matematika Aksiomatik, dimana Matematika demikian
didefinisikan sebagai ilmu yang bersifat deduktif, yang berlandaskan atau
dimulai dengan mendefinisikan konsep-konsep, selanjutnya dibentuklah
Teorema-teorema, Aksioma atau Dalil-dalil yang pada akhirnya diperoleh suatu Struktur
Matematika yang di dalamnya tidak boleh terdapat kontradiksi.
5. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai penggunaan matematika dalam kehidupan
sehari-hari?
Jawab: Penggunaan Matematika dalam
kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa; jadi jangan membebani
generasi muda (anak-anak) untuk berpikir sampai tahap demikian. Menggunakan
matematika adalah urusan dan kerja orang dewasa (matematikawan dan praktisi
matematika). Ada dua perbedaan yaitu “kemampuan mnerapkan matematika” dan “matematika
terapan”. Kemampuan menerapkan matematika dapat dipandang dari sisi kemampuan
berpikir secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Bloom, yaitu kemampuan
berpikir sejak dari: Mengingat, Memahami, MENERAPKAN, Analisis, Sintesis,dan
Evaluasi. Berarti setiap kegiatan berpikir terdapat aspek Menerapkan
pemahamannya sebagai suatu kriteria tahapan berpikir. Demikian itulah yang
terjadi jika siswa/anak kecil berpikir termasuk berpikir matematika. Sedangkan matematika
terapan atau menerapkan matematika dalam kepentingan matematika bermanfaat bagi
ilmu-ilmu lain itulah yang saya maksud sebagai domainnya orang dewasa.
6. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai bentuk dan ukuran dari bangun geometri?
Jawab: Segala bentuk, ukuran, dan
macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam intuisi, ruang
dan waktu.
7. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai limit fungsi?
Jawab: Secara filsafati, konsep limit
fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, di mana dalam ketakhinggaan manusia
menemukan ketidaksempurnaannya.
8. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai kesamaan dan ketidaksamaan?
Jawab: Dalam filsafat, konsep
Kesamaan setara dengan Sifat Identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A;
sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan Sifat kontradiksi yaitu Predikat yang
tidak akan mampu menyamai subjeknya.
9. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai konsep bilangan?
Jawab: Secara filsafat, konsep
Bilangan hanya dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu. Di dalam pikiran,
bilangan bermakna karena nilainya.
10. Bagaimana
penjelasan filosofis mengenai kesulitan belajar?
Jawab: Secara filsafat, Kesulitan
dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu.
Sunday, September 22, 2019
Pengalaman Menonton Pertunjukkan Wayang Kulit di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta
Tugas Kuliah Filsafat Ilmu, Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Pada hari jum'at malam tanggal 13 September 2019, kami satu kelas yaitu kelas D PPs Pendidikan Matematika berencana pergi menonton pertunjukkan wayang kulit di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Namun, hanya beberapa orang saja yang datang menonton pertujukkan, mungkin dikarenakan teman-teman yang lainnya masih ada kesibukkan lain sehingga berhalangan hadir dan akan menonton pertunjukkan di hari berikutnya. Kebetulan pertunjukkan wayang kulit diadakan setiap hari di Museum Sonobudoyo kecuali pada hari minggu di tutup.
Pada hari jum'at malam tanggal 13 September 2019, kami satu kelas yaitu kelas D PPs Pendidikan Matematika berencana pergi menonton pertunjukkan wayang kulit di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Namun, hanya beberapa orang saja yang datang menonton pertujukkan, mungkin dikarenakan teman-teman yang lainnya masih ada kesibukkan lain sehingga berhalangan hadir dan akan menonton pertunjukkan di hari berikutnya. Kebetulan pertunjukkan wayang kulit diadakan setiap hari di Museum Sonobudoyo kecuali pada hari minggu di tutup.
Setelah kami sampai di tempat pertunjukkan wayang kulit, sebelumnya kita diwajibkan membayar sebesar Rp 20.000 rupiah dan mengisi buku tamu. Kemudian setelah itu, kita diberikan tiket masuk dan pamflet yang mana pamflet tersebut merupakan sinopsis dari cerita wayang kulit yang akan di ceritakan malam itu, yaitu Anggada Duta (Perutusan Anggada). Bukan cuma sinopsis, di dalam pamflet tersebut memperlihatkan tokoh-tokoh wayang kulit apa saja yang bermain pada cerita itu, yaitu tokoh utama: Rama, Sinta dan Rahwana sedangkan tokoh pendukung: Anggada, Bathara Guru, Prahasta, dan Indrajit. Tidak lupa pula, sejarah singkat dari Museum Sonobudoyo.
Ketika masuk ke dalam tempat pertunjukkan, terlihat berbagai macam alat musik gamelan yang tersusun rapi diatur di dekat tempat pertunjukkan wayang kulitnya. Sedangkan di bagian tengah belakang adalah tempat pertunjukkan wayang kulitnya. Tempat pertunjukkan wayang kulitnya yaitu berupa kain putih yang ditempelkan pada bingkai persegi panjang sehingga seperti layar kemudian di soroti lampu, ini dilakukan agar bayangan dari wayang kulit nantinya dapat terlihat jelas ketika orang-orang menontonnya. Yang paling unik menurutku adalah tempat untuk meletakkan wayang-wayang kulit yang akan di tampilkan di layar. Agar wayang kulitnya bisa berdiri kokoh, pewayang menancapkan wayang kulitnya pada batang pohon pisang dibagian bawah layar, sehingga wayangnya tidak bergerak-gerak, kecuali tangannya yang digerakkan oleh pewayang.
Oh ya, jika kita ingin menonton wayang kulit disarankan pada bagian belakang layar sehingga bayangan wayang kulit terlihat jelas. Kita juga dapat menonton wayang kulit di bagian depan maupun samping, hanya saja kita menontonnya tidak terlalu fokus, karena adanya alat-alat musik gamelan, para pemain musik dan para sinden yang ada disitu, yang akhirnya kita sibuk memperhatikan para pemain musik dan sindennya yang asik memainkan alat musik dan melantunkan lagu.
Kebanyakan yang menonton pertunjukkan wayang kulit tersebut adalah orang-orang dari luar negeri (bule). Ada rasa bangga ketika melihat para bule antusias untuk menonton pertunjukkan wayang kulit tersebut. Namun ada pula rasa kecewa, ketika orang luar negeri saja yang jauh-jauh dari negaranya datang ke sini untuk menonton pertunjukkan wayang kulit, sedangkan kita yang sudah tinggal di Indonesia ini masih bermalas-malasan atau bahkan tidak mau menonton pertunjukkan ini. Miris.
Iringan musik dan lantunan lagu dari para pesinden menandai bahwa pertunjukkan akan di mulai. Mulailah pewayang mempersiapkan wayang kulit mana yang akan di tampilkan di layar. ketika pertunjukkan di mulai, tenyata bahasa yang digunakan yaitu bahasa jawa. Untungnya sebelum pertunjukkan di mulai, saya sudah membaca sinopsis dari pamflet tadi dan telah melihat tokoh-tokoh wayang kulit yang akan digunakan, sehingga ketika pertunjukkan saya bisa mengerti jalan ceritanya. Yahh.. walapun tidak secara keseluruhan sih. Selain itu juga, beruntungnya ada beberapa teman yang sudah memahami cerita ini, sehingga saya juga meminta penjelasan dari mereka.
Ketika wayang kulitnya ditampilkan di layar, kami menebak-nebak tokoh-tokoh apa saja yang ditampilkan tersebut. Pertunjukkannya berjalan dengan lancar. Pertunjukkannya mulai pukul 20.00-22.00 WIB. kami menikmati pertunjukkan tersebut, walaupun kadang saya bingung dengan apa yang diceritakan oleh pewayang (karena menggunakan bahasa jawa). Setelah selesai pertunjukkan, kami di sapa oleh pewayang, para pemain musik dan para sinden. Setelah itu, kami menyempatkan berfoto didepan tempat pertunjukkan wayang kulit.
Foto setelah menonton pertunjukkan wayang kulit
Berikut sinopsis dari cerita Anggada Duta (Perutusan Anggada)
Pembicaraan pada babak pertama terjadi antara Sri Rama dengan Anggada beserta beberapa tokoh yang lainnya. Karena Anoman yang diutus oleh Sri Rama ke Alengkara melaporkan keadaan Dewi Sinta sehat-sehat dan juga Dewi Sinta masih tetap cinta setia dengan Sri Rama. Laporan Anoman itu dirasakan Sri Rama masih kurang meyakinkan dirinya, sehingga Sri Rama mengutus Anggada ke Alengka mengadakan misi perdamaian sebagai duta dari Sri Rama. Diberikan mandat oleh Sri Rama, Anggada dengan suka cita menerimanya, untuk membalas budi Sri Rama karena ia telah diperlakukan seperti anak sendiri. Dan kemudian mohon pamit, untuk menempuh perjalanan ke Alengkapura.
Di Alengkapura dikisahkan para raksasa sedang melakukan penjagaan ketat, dikarenakan trauma dengan kejadian sebelumnya, yaitu kota Alengka pernah dibakar oleh Anoman. Ketika sedang bertugas berjaga-jaga para raksasa dikejutkan oleh kedatangan seekor kera merah yang bernama Anggada. Peperangan tidak bisa dihindari, para raksasa dengan ganas menyerang Anggada, begitu juga sebaliknya. Namun pertempura akhirnya diberhentikan dengan kedatangan Rahwana. Rahwana mendekati Anggada dan menanyakan maksud dari kedatangannya ke Alengka. Anggada diajak ke balai paseban agung. Anggada memperkenalkan diri dan menceritakan dirinya adalah anak dari Subali. Seketika itu juga Rahwana menangis dihadapan Anggada. Rahwana berakting sedih guna mengelabui Anggada, dan kemudian bisa diperalat. Anggada disanjung, diperlakukan dan dijamu dengan baik, diberi makanan yang enak-enakserta minuman keras dan didampingi perempuan-perempuan cantik, untuk membuat Anggada menjadi linglung dan hilangnya keseimbangan pikirannya. Disaat Anggada mabuk, hilanglah kesadarannya, Rahwana memfitnah dengan membuka tabir kematian ayahnya yaitu Subali yang dibunuh oleh Sri Rama dan Sugriwa. Namun hasutanhasutan itu membuat semangat Anggada membara dendamnya untuk kembali bermusuhan dengan Sri Rama. Karena dibakar amarah Anggada berubah menjadi raksasa besar yang bernama Kalantaka. Bersama anak Rahwana yang bernama Megawangsa dan beberapa pasukan raksasa pergi ke Pancawati (tempat perkemahan Rama) menyerbu pasukan wanara yang di pimpin oleh Rama Dewa.
Anoman dan pasukan kera yang sedang menunggu kedatangan Anggada menjadi kalang kabut. Anggada dan Kulantaka serta beberapa pasukan raksasa kemudian menyerbu Pancawati. Pertempuran amat dahsyat, tidak bisa dihindari. Anoman menjadi heran melihat raksasa besar itu tidak bisa dikalahkan. Kemudian Anoman meneliti merenung dengan memakai Kuku Pancanaka miliknya. Dan akhirnya tahulah Anoman bahwa Kalantaka itu adalah Anggada. Anoman menyadarkan Anggada dari kekeliruannya, yang telah diperbudak oleh Rahwana. Ketika itu juga Anggada kembali bergabung dengan pasukan wanara untuk menyerang pasukan raksasa, dan membunuh anak Rahwana yaitu Megawangsa.
Nilai yang Terkandung
Cerita Anggada Duta ini mendidik kita untuk selalu berhati-hati dan waspada ketika melakukan sesuatu sehingga dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Kesimpulan
Cerita ini menguraikan perjalanan Anggada sebagai duta (diutus), dikarenakan Anggada diperdaya oleh Rahwana, Anggada bermusuhan dengan Rama dan berperang melawan pasukan kera, yang pada akhirnya kembali bertempur melawan pasukan Rahwana dan dapat dikalahkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Folder Tugas Akhir Filsafat Ilmu Dosen Pengampu Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Berikut beberapa tugas akhir semester saya yang telah diselesaikan, yaitu: 1. Identifikasi dan Penjelasan Filsafat Mengenai Persoalan Matem...
-
Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A. 1. Bagaimana penjelasan filo...
-
Tugas Kuliah Filsafat Ilmu, Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pada hari jum'at malam tanggal 13 September 2019, kami...
-
Berikut beberapa tugas akhir semester saya yang telah diselesaikan, yaitu: 1. Identifikasi dan Penjelasan Filsafat Mengenai Persoalan Matem...

